Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Israel, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyampaikan pidato penuh semangat kepada rakyatnya. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa Israel saat ini berada dalam posisi yang lebih kuat dibanding sebelumnya, meskipun tengah menghadapi konflik besar dengan Iran dan sekutunya.
Netanyahu menyebut perjuangan melawan rezim Iran sebagai pertempuran eksistensial. Ia mengklaim Israel telah mencapai berbagai “prestasi luar biasa” dalam operasi militernya. Namun di balik keberhasilan tersebut, ia mengakui ada harga mahal yang harus dibayar. Ia menyampaikan belasungkawa mendalam atas gugurnya empat prajurit terbaik Israel, serta menyatakan solidaritas bagi para korban luka, baik fisik maupun mental.
Menurut Netanyahu, ancaman dari Iran bukanlah hal baru. Ia menuduh rezim Teheran selama bertahun-tahun mengembangkan program nuklir dan rudal balistik, sekaligus mendanai serta mempersenjatai kelompok-kelompok bersenjata di kawasan Timur Tengah. Ia juga menyebut bahwa ambisi tersebut telah menghabiskan biaya hampir satu triliun dolar bagi Iran.
Dalam pidatonya, Netanyahu menggambarkan operasi militer Israel sebagai bagian dari “Perang Kebangkitan.” Ia mengklaim Israel telah memberikan pukulan besar terhadap apa yang ia sebut sebagai “poros kejahatan,” termasuk kelompok-kelompok yang didukung Iran di Gaza, Lebanon, Suriah, Yaman, dan wilayah lainnya.
Ia juga menyinggung Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dengan menyatakan bahwa rezim Iran kini berada dalam posisi lebih lemah dari sebelumnya. Netanyahu menegaskan bahwa Israel telah menghambat kemampuan Iran dalam mengembangkan senjata nuklir serta memproduksi rudal balistik secara massal.
Selain itu, ia menyatakan bahwa Israel telah memperkuat sabuk keamanan di berbagai perbatasan, termasuk di Gaza, Lebanon, dan Suriah. Sistem pertahanan udara Israel, menurutnya, telah terbukti sebagai salah satu yang terbaik di dunia.
Netanyahu juga menekankan pentingnya kerja sama dengan Amerika Serikat. Ia menyebut adanya koordinasi militer yang belum pernah terjadi sebelumnya antara kedua negara dalam menghadapi ancaman Iran. Bahkan, ia mengisyaratkan adanya aliansi baru dengan beberapa negara di kawasan, meskipun belum merinci lebih lanjut.
Dalam bagian akhir pidatonya, Netanyahu menyerukan persatuan nasional dan mengkritik pihak oposisi yang dinilainya terlalu terlibat dalam politik internal di tengah situasi perang. Ia meminta seluruh elemen bangsa untuk tetap fokus pada perjuangan dan keamanan negara.
Menutup pidatonya, Netanyahu mengaitkan perjuangan saat ini dengan sejarah panjang bangsa Israel, termasuk narasi pembebasan dalam tradisi Paskah Yahudi. Ia menyatakan keyakinannya bahwa Israel akan terus bertahan dan memastikan masa depan yang aman bagi generasi mendatang.
Pidato tersebut menegaskan bahwa meski konflik belum berakhir, pemerintah Israel mengklaim telah mencapai sejumlah capaian strategis penting dalam menghadapi ancaman regional yang dianggap sebagai tantangan terbesar bagi keberlangsungan negara tersebut.